El Clasico Dan Sejarahnya

El ClasicoEl Clasico dalam bahasa Inggris disebut The Classic dan dalam bahasa Indonesia berarti klasik. Istilah ini sengaja diciptakan untuk pertandingan sepakbola terakbar di Dunia yang mempertemukan antara dua klub raksasa Spanyol yaitu Real Madrid dan FC Barcelona. El Clasico edisi pertama terjadi pada 17 Februari 1929 dimana tim tamu Real Madrid unggul tipis 1-2 atas. Namun beberapa sumber lain menyebutkan bahwa El Clasico pertama kali berlangsung pada sebuah turnamen mini yang diselenggarakan untuk memperingati penobatan Raja Alfonso XII pada tahun 1902.

Sejarah Rivalitas
Permusuhan antara Barcelona dan Real Madrid bermula pada masa kepemimpinan Francisco Franco. Francisco Franco adalah seorang Jenderal yang menjadi penguasa diktator di Spanyol pada tahun 1930-an. Barcelona yang sampai sekarang adalah ibukota dari Provinsi Catalonia, yang sebagian besar penduduknya adalah dari suku bangsa Catalan dan Basque. Sejak dulu, orang-orang catalonia ini menganggap diri mereka bukan bagian dari Spanyol, dan merupakan bangsa yang berada di bawah penjajahan Spanyol. Franco sendiri melarang penggunaan bendera negara dan bahasa daerah dari Catalan. Kemudian, FC Barcelona menjadi satu-satunya tempat dimana sekumpulan besar orang dapat berkumpul dan berbicara dalam bahasa daerah mereka. Warna biru dan merah marun Barcelona menjadi pengganti yang mudah dipahami dari warna merah dan kuning untuk bendera Catalonia. Franco kemudian bertindak lebih jauh. Josep Suñol, Presiden Barcelona waktu itu dibunuh oleh pihak militer pada tahun 1936, dan sebuah bom dijatuhkan di FC Barcelona Social Club pada tahun 1938. Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun 1941 ketika para pemain Barcelona diinstruksikan yang juga dibawah ancaman militer untuk kalah dari Real Madrid. Barcelona kalah dan gawang mereka kemasukan 11 gol dari Real Madrid. Sebagai bentuk protes, Barcelona bermain serius dalam 1 serangan dan mencetak 1 gol. Skor akhir 11-1, dan 1 gol itu membuat Franco kesal. Kiper Barcelona kemudian dijatuhi tuduhan pengaturan pertandingan dan dilarang untuk bermain sepakbola lagi seumur hidupnya. Sejak saat itu FC Barcelona menjadi semacam klub “anti-franco” dan menjadi simbol perlawanan bangsa Catalonia terhadap Franco, dan secara umum terhadap Spanyol.

Rivalitas Transfer Pemain
Pada tahun 1950-an, Real Madrid dan FC Barcelona terlibat perebutan pemain yaitu Alfredo Di Stefano, bintang Argentina yang pindah warga negara Spanyol. Keduanya tertarik memboyong dan berupaya untuk mendapatkan tanda tangan Di Stefano. Karena kebingungan menghampiri sang pemain, akhirnya Di Stefano memilih untuk pindah dari River Plate ke Club Deportivo Los Millonarios di Bogota dan kemudian mogok bermain setelah kedua tim tersebut yaitu Madrid dan Barca telah mengklaim mendapatkan sang pemain. Setelah FIFA mengintervensi transfer tersebut, maka diputuskan bahwa kedua klub harus berbagi pemain selama 4 musim secara bergantian yaitu 2 musim untuk masing-masing klub. Keputusan tersebut menimbulkan ketidakpuasan dari kubu Barcelona dan para fansnya yang kemudian membuat presiden Barcelona waktu itu mundur dari jabatannya dan merelakan Alfredo Di Stefano menjadi pemain Real Madrid. Kesuksesan Real Madrid mendapatkan pemain hebat, Di Stefano, membuat mereka sukses menyabet sederet gelar, pada tahun 1950-an.
Tak hanya Alfredo Di Stefano saja yang pernah menjadi rebutan dua klub besar tersebut. Nama-nama bintang seperti Bernd Schuster, Michael Laudrup, Luis Figo, Luis Enrique hingga Ronaldo, semuanya pernah merasakan tinggal di dua klub tersebut. Mereka merasakan kerasnya bermain di El Clasico. Figo bahkan pernah dilempar kepala babi dalam sebuah pertandingan oleh pendukung Barcelona yang marah dengan keputusan Figo menyebrang ke Madrid dari Barcelona.

Selain dikarenakan Madrid dan Barcelona adalah dua kota terbesar di Spanyol, dua klub sepakbola terkaya, paling sukses dan paling berpengaruh di Dunia. Latar belakang panjang inilah yang menyebabkan laga El Clasico antara Los Merengues dan Blaugrana di setiap musimnya selalu panas, sengit dan keras.

Andik Vermansyah, Bintang Masa Depan Indonesia

Andik Vermansyah adalah pesepakbola asal Surabaya 23 November 20 tahun silam. Saat ini Andik merumput bersama Persebaya Surabaya, tim yang membesarkan namanya di dunia sepakbola Indonesia.

Lika-Liku Menjadi Pesepakbola
Terlahir dari keluarga kurang mampu tentu bukan penghalang untuk menjadi seorang bintang. Itu yang dirasakan pemuda kelahiran Jember, Jawa Timur saat ini. Ya, dulu ayah Andik, Saman, hanya seorang buruh bangunan. Sementara ibunya, Jumiah, hanya seorang tukang jahit dan ibu rumah tangga. Orang tuanya yang memiliki penghasilan pas-pasan dan tak memiliki dana lebih untuk membantu Andik mewujudkan mimpinya yaitu menjadi pemain sepakbola. Maka, tak heran bila awalnya Andik tidak diizinkan menekuni sepak bola. Sebab, orang tuanya khawatir Andik cedera hingga patah kaki karena sepakbola. Namun, dorongan yang kuat tak membuat Andik mudah patah semangat. Dia pun berjuang sendiri demi mewujudkan mimpinya menjadi pemain sepak bola. Berbagai upaya ditempuhnya, mulai dari jualan kue dan es di Gelora 10 November saat ada pertandingan Persebaya hingga bermain sepak bola antarkampung (tarkam) ke luar Surabaya dilakoninya, hanya untuk bisa membeli sepatu bola.

Waktu kelas 4 SD, Langkah Andik menunjukkan titik terang ketika Pelatih SSB Suryanaga saat itu, melihat bakat besarnya. Pelatih tersebut pun menawarinya untuk menimba ilmu di sekolah sepak bola secara gratis alias tidak membayar. Hal itu dikarenakan, Andik tak mampu kalau harus membayar untuk bisa masuk SSB Suryanaga. Suryanaga sendiri adalah klub internal dari kompetisi Persebaya.

Awal Karir Menjadi Pesepakbola
Setelah masuk SSB Suryanaga, bakat sepakbola Andik semakin besar dan semakin berkembang. Sehingga pada tahun 2005, Andik memperkuat Persebaya Junior untuk menjalani berbagai Kompetitsi Junior. Pada tahun 2008, Andik Vermansyah dipanggil tim sepakbola Jawa Timur dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kalimantan Timur. Di PON Kaltim, Andik Vermansyah mampu membawa tim sepakbola Jatim yang dilatih Aji Santoso merebut medali emas seusai mengalahkan tim sepakbola Papua. Berkat hasil tersebut, membuat Freddy Muli, Pelatih Persebaya Senior saat itu memanggilnya untuk memperkuat Persebaya Senior dalam kompetisi Divisi Utama 2008. Meski jarang dimainkan sebagai pemain utama dikarenakan masih terlalu muda, tetapi Andik bisa membuktikan penampilan terbaiknya apabila ia dipercaya sebagai pemain pengganti. Tidak berselang lama, Andik mendapatkan lebih banyak kesempatan bermain disaat pergantian pelatih ke tangan Aji Santoso pada babak playoff Superliga. Dan, membuat Persebaya promosi ke Liga Super Indonesia musim 2009-2010.

Dari Persebaya ke Timnas
Bakat Andik Vermansyah berkembang pesat di musim 2010-2011. Saat itu Persebaya 1927 (ganti nama setelah pindah ke LPI) yang ditangani mantan pelatihnya Di PON Kaltim, Aji Santoso mempercayai Andik dalam skuad starting eleven Persebaya 1927 dalam menghadapi kompetisi Liga Primer Indonesia. Kepercayan itu tidak disia-siakan olehnya. Andik mampu membawa Persebaya 1927 menjadi juara paruh musim. Bermain sebagai gelandang serang, dia tampil sebanyak 17 laga dan mencetak 7 gol di musim tersebut.

Berkat permainan yang ciamik, Andik sempat masuk dalam 50 pemain seleksi Timnas U-23 yang dilatih oleh Alfred Riedl yang dipersiapkan untuk ajang Pra Olipimpiade 2012 kontra Turkmenistan pada bulan Februari 2011 dan Sea Games 2011. Namun dikarenakan adanya keputusan kontroversial PSSI saat itu yang tidak memperbolehkan pemain-pemain Liga Primer Indonesia memperkuat Timnas Indonesia, Andik pun “dipaksa” gagal alias dicoret dari seleksi Timnas U-23. Dan, pupus sudah keinginan Andik Vermansyah membela Timnas Indonesia di ajang Pra Olimpiade 2012.

Namun setelah PSSI pindah nahkoda dari Nurdin Halid ke Djohar Arifin pada Kongres PSSI di Solo lalu, keputusan kontroversial tersebut dicabut. Semua pemain Indonesia berhak membela Timnas Indonesia walaupun dia pernah bermain untuk kompetisi Liga Primer Indonesia. Hal itu membuat peluang Andik memakai kostum Garuda terbuka lebar. Apalagi setelah Pelatih Timnas Indonesia U-23 berpindah ke tangan Rachmad Darmawan dan dibantu oleh asisten pelatih Widodo C. Putro serta Aji Santoso. Andik pun akhirnya masuk ke dalam 20 pemain Timnas U-23 yang akan dimainkan di Sea Games 2011 setelah menjalani beberapa rangkaian seleksi. Di Sea Games 2011 itu, Andik mampu memperlihatkan kemampuan terbaiknya yang membuat para pecinta sepakbola Indonesia mulai menyukainya dan mengidolakannya. Namun, Timnas U-23 hanya mampu meraih medali perak setelah dikalahkan Timnas Malaysia melalui adu penalti. Dan. Andik pun mampu mencetak 1 gol dari 5 penampilannya bersama Timnas U-23 di ajang 2 tahuan se-Asia Tenggara tersebut.

Indonesia Juara Umum, Sepakbola Runner Up

Sea Games XXVIKemarin (22/11) Pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara ke 26 atau yang lebih dikenal dengan Sea Games XXVI resmi ditutup di Gelora Sriwijaya, Palembang oleh wapres Indonesia, Boediono. Gelaran yang dimulai tanggal 11 November Sampai 22 November 2011 itu mempertandingkan berbagai nomor lomba dari 44 cabang olahraga. Dan, hasil akhir perolehan medali dari Sea Games XXVI menempatkan Indonesia di posisi pertama dengan perolehan 182 untuk medali emas, 151 medali perak dan 143 untuk medali perunggu. Kemudian di Peringkat kedua ditempati Negara Thailand (109 Emas, 100 Perak,dan 120 Perunggu), disusul dengan Negara Vietnam di posisi ketiga (96 Emas, 92 Perak, 100 Perunggu). Dengan hasil tersebut, Indonesia berhak menjadi status Juara Umum di Sea Games XXVI. Ini merupakan ke 10 kalinya Indonesia menjadi Juara Umum sepanjang sejarah Sea Games.

Namun, prestasi Juara Umum yang diperoleh Indonesia terasa tidak lengkap dikarenakan cabang olahraga yang paling bergengsi yaitu Sepakbola nomor pria tidak mampu menyumbangkan medali emas. Timnas Indonesia dikalahkan oleh Malaysia di babak final lewat adu penalti 3-4 usai imbang 1-1 selama 120 menit. Dengan hasil ini, semakin memperpanjang puasa medali emas Indonesia yang terakhir kali diperolehnya pada tahun 1991 atau 20 tahun yang lalu. Mendapatkan medali Perak merupakan hasil terbaik yang dicapai Indonesia sejak Sea Games memberlakukan aturan umur di cabang Sepakbola pada tahun 2001. Setelah sebelumnya pencapaian terbaik Indonesia hanya mampu menjadi semifinalis pada tahun 2005 di Filipina. Selebihnya Indonesia tak mampu lolos babak penyisihan grup.

Profil Marco “SuperSic” Simoncelli

Marco Simoncelli lahir di Cattolica, Rimini, Italia, 20 Januari 1987 – meninggal di Sepang, Malaysia, 23 Oktober 2011 pada umur 24 tahun. Super Sic (julukan dari Marco Simoncelli) adalah salah satu pembalap MotoGP yang berasal dari Italia, dan cukup terkenal dengan karakter balapnya yang cukup garang. Pria kribo asal Italia ini mempunyai ciri khas garang dalam mengendarai kuda besinya. Hal itu membuat para pesaingnya di balapan menegurnya agar tak agresif dalam mengendarai motornya karena bisa membahayakan dirinya dan pembalap lain. Gaya garangnya ini terlihat ketika seri terakhir MotoGP musim 2010, saat ia nyaris membuat Jorge Lorenzo terjatuh dan gagal meraih kemenangan di seri terakhir musim itu. Selain Lorenzo, Dani Pedrosa juga sempat merasakan aksi garang Super Sic di Sirkuit Le Mans yang membuat Dai Pedrosa terjatuh dan tak bisa melanjutkan balapan. Akibat tragedi itu juga, Dani Pedrosa mengalami cedera bahu yang cukup lama.

Awal Karir Jadi Pembalap

Simoncelli mengawali karirnya di dunia balap motor profesional, ketika ia menginjak usia 9 tahun di ajang Italian Minimoto Championship. Ia memenangkan Italian Minimoto Championship pada tahun 1999 dan 2000. Dan juga dia menjadi runner up di ajang European Minimoto Championship setahun berikutnya. Di Tahun 2001 ia pun hengkang ke ajang European 125cc dan mengamankan titel juara di tahun 2002.

Karir Di 125 cc dan 250 cc Moto GP

Pada tahun 2002 ia kemudian memulai karirnya di ajang 125 cc MotoGP bersama tim Matteoni Racing menggantikan pembalap Ceko Jaroslav Huleš yang naik kelas ke 250cc. Selama tiga tahun ia kemudian berlaga di kelas 125cc, ia hanya mampu meraih hasil terbaik di posisi kelima pada tahun 2005. Pada Tahun 2006 Simoncelli naik ke kelas 250cc bersama tim Metis Gilera asal Italia. Namun dia gagal mendapatkan hasil terbaik selama 2 musim bersama tim tersebut. Di Tahun 2008, Simoncelli pindah ke Tim Gilera dan ia menjadi satu-satunya pembalap dari tim Gilera yang mampu menunjukkan hasil terbaik di ajang ini yaitu menjadi juara dunia di tahun 2008 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia.

Simoncelli Di Moto GP

Di Tahun 2010 tim Gresini Honda tertarik untuk merekrutnya di ajang MotoGP. Dan Ia pun mampu memperlihatkan hasil yang bagus sebagai pembalap rookie. Hasil terbaik yang bisa ditorehkan oleh pembalap asal Italia itu adalah posisi keempat di MotoGP Portugal 2010. Simoncelli mengakhiri musim 2010 dengan berada di peringkat 8 dengan poin 125. Pada musim 2011, Simoncelli diperkirakan menjadi kejutan musim ini. Itu terbukti setelah ia mampu finish posisi kelima di balapan pembuka musim di Qatar. Dan, Simoncelli meraih podium pertamanya di Moto GP dengan posisi ketiga pada race ke-11 di Sirkuit Brno, Republik Ceko. Finis terbaiknya di MotoGP adalah posisi kedua di GP Australia di Phillip Island 16 Oktober lalu.

Kematian Simoncelli

Pada tanggal 23 Oktober 2011 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia Simoncelli terlibat tabrakan dengan Colin Edwards dan Valentino Rossi saat berada di posisi keempat pada putaran kedua. Simoncelli terjatuh ketika sedang berbelok di tikungan ke-11. Edwards juga terjatuh namun hanya mengalami patah tulang bahu, sementara Simoncelli berbaring diam di lintasan sesaat setelah kecelakaan dengan helmnya terlepas dalam insiden itu. Sementara itu, Rossi hanya sedikit kehilangan keseimbangan dan dapat melaju pelan ke pit-stop. Setelah insiden tersebut, perlombaan dihentikan dan Simoncelli langsung dibawa ke pusat medis Sirkuit Sepang. Pada pukul 16.56 waktu setempat, Simoncelli dinyatakan meninggal dunia karena luka serius yang dideritanya. Kemudian, dalam jumpa pers direksi balapan MotoGP, kepala medis, Michele Macchiagodena, menyatakan bahwa Simoncelli mengalami “trauma serius di kepala, leher, dan dada,” dan sempat diberi perawatan CPR selama 45 menit sebelum akhirnya meninggal.

Simoncelli, 58, Dan AC Milan

Nomor 58 milik Marco Simoncelli diambil dari rekor jumlah 58 pertandingan tak terkalahkan AC Milan antara 19 Mei 1991 hingga 21 Maret 1993 di era Fabio Capello dan SuperSic Benar-benar seorang Milanisti sejati. Dikamarnya penuh dengan poster AC Milan. Maka dari itu, pada saat Marco Simoncelli meninggal, para ofisial dan pemain AC Milan sangat merasakan kehilangan salah satu Milanisti sejatinya. Pada saat laga AC Milan lawan Lecce 23 Oktober lalu, yang berkesudahan dengan skor 4-3 untuk kemenangan Milan. AC Milan mempersembahkan kemenangan tersebut untuk Sang Super Sic. “Kami persembahkan kemenangan ini buat Marco Simoncelli, Simoncelli pasti tersenyum di sana dengan kemenangan Milan, RIP Marco”, ujar Pelatih Milan, Maximiliano Allegri. Begitu pun dengan sang Wakil Presiden Adriano Galliani, yang mengungkapkan, “Kemenangan ini untuk sang juara mendiang Marco Simoncelli, dia fans sejati Milan, jadi sudah selayaknya kemenangan ini untuk dia”.

Rayuan Gombal Ala Far Ristelrooy. :-)

Disini, saya akan mencoba memberikan trik-trik atau tips rayuan gombal. Ya,meskipun agak Jayus atau norak, moga aja bisa berguna bagi gombalers- gombalers Indonesia.hehehe.🙂.
Berikut berbagai trik-trik Rayuan Gombal ala Far Ristelrooy: (This Is It.🙂 )

~ Mbak, Tau Gak Bedanya Monas Sama Kamu?
~ Apa ya,Mas?Kalo Monas Itu Tinggi n Kalo Aku Itu Pendek.hahaha.
~ Salah,Mbak.
~ Lah..Trus Yang Benar Apa,Mas?
~ Kalo Monas Itu Milik Indonesia, Tapi Kalo Kamu Milikku Seorang.hehehe.

~ Mas, Kamu Sudah Nge-Vote Pulau Komodo Jadi Keajaiban Dunia ta?
~ Belum,Mbak.
~ Lho, Emank Kenapa Koq Gak Nge-Vote,Mas?? Padahal Pulau Komodo Itu Kebanggan Indonesia.
~ Aku Gak Nge-Vote Pulau Komodo Karena Pulsaku Udah Habis Buat Nge-Vote Kamu Menjadi Keajaiban Di Hatiku.hehehe.

‎~ Mbak, Kamu Suka SepakBola Gak?
~ Suka,Mas.
~ Sukanya Sama Klub Apa,Mbak?
~ Aku Suka Permainannya Barcelona,Mas. Kenapa?
~ Oalah. . .Pantesan,Mbak. Kamu Telah Men-Tiki Taka-kan Hatiku.hehehe.

~ Mbak, Bapakmu Guru Bahasa Indonesia ya?
~ Iya,Mas. Kenapa?
~ Ta’Kasih Tebakan, Jawab ya,Mbak. Rajin Pangkal Apa,Mbak?
~ Pandai
~ Kalo Hemat Pangkal Apa,Mbak?
~ Ya Kaya Lah,Mas.
~ Kalo Kamu Pangkal?
~ Hmm. . Pangkal apa ya,Mas? Nyerah Dech
~ Kamu Pangkalan Hatiku.hehehe.

~ Mas, Ada Urusan Apa Koq Dari Rumahnya Pak RT?
~ Habis Lapor,Mbak?
~ Emank Habis Ngapain Koq Pake Lapor Segala,Mas?
~ Iya,Mbak. Karena Saya Udah 1X24 Jam Berada Di Hatimu,Mbak.hehehe

‎~ Mbak, Kamu Suka Nonton Bola?
~ Iya. Kenapa,Mas.
~ Coba Sekali-Sekali Kamu Berada Di Tengah-Tengah Lapangan, Pasti Semua Pemain Gak Akan Mengejar Bolanya.
~ Lho Koq Bisa,Mas?
~ Soalnya Semua Pemainnya Pada Berebutan Mengejar Hati kamu.hehehe.

‎~ Mbak,Bapak Kamu Pemain Bola ya?
~ Koq Tau,Mas?
~ Karena Kau Telah Meng-counter Attack Hatiku.hehehehe.

~ Mbak,Pinjem Hape ya?
~ Ini,Mas. Emank Buat Telepon Siapa,Mas?
~ Buat Telepon Polisi,Mbak.
~ Lho. Emank Ada Pencurian ta,Mas?
~ Iya,Mbak. Kamu Telah Mencuri Hatiku.hehehe.

~ Mbak,Boleh Minta Fotonya Gak?
~ Boleh. Emank Buat Apa,Mas?
~ Aku Mau Nunjukin Ke Orang-Orang Kalo Bidadari Itu Emank Ada.hehehe.

‎~ Mbak,Punya Tang Gak?
~ Punya,Mas.
~ Obeng,Mbak?
~ Punya,Mas.
~ Kunci Inggris Punya,Mbak?
~ Punya,Mas. Emank Mau Benerin Apa Sech?
~ Ini Lho,Mbak. Aku Mau Benerin Serpihan” Hatiku Untuk Dipasangkan Di Hatimu.hehehehe.

~ Mas,Aku Lagi Sedih Nich.😦
~ Kenapa Koq Sedih,Mbak?
~ Aku Gak Lulus Mata Kuliah Kewarganegaraan. Hiks. .:-(.
~ Gak Usah Sedih,Mbak. Meskipun Kamu Gak Lulus Makul Kewarganegaraan Tapi Kamu Sudah Lulus Kriteria Buat Jadi Pasangan Hidup Saya.hehehehe.

‎~ Mbak,Tau Nomer Teleponnya PASPAMPRES Gak?
~ Tau,Mas.
~ Boleh Minta Gak,Mbak?
~ Buat Apa,Mas?
~ Buat Ngejagain Kamu Dihatiku.hehehe.

‎~ Mas,Kamu Bisa Fisika Gak?
~ Gak Bisa,Mbak. Bingung Rumus-Rumusnya.
~ Koq Bisa Bingung Lho,Mas?
~ Iya Bingung Banget,Mbak. Tapi Sebingung-Bingungnya Rumus Fisika, aku lebih bingung, kok kamu bisa ya merebut hatiku?hehehe.

‎~ Jari-Jarinya Indah Banget,Mbak.
~ Iya ta,Mas?Makasih ya.
~ Tapi Akan Lebih Indah Lagi Kalo Saja Jari-Jariku Berada Di Selah-Selahnya.hehehe.

~ Mbak,Kamu Habis Maen Lem Ya?
~ Iya. Kenapa,Mas?Belepotan Ya?
~ Enggak,Mbak.
~ Trus Kenapa,Mas?
~ Ini Lho, Hatimu Koq Nempel Trus Di Hatiku ya?hehehe

Sumber: Facebook Far Ristelrooy

Soal UAS ADBO Paralel

Soal UAS ADBO Paralel A UPN Veteran Jatim.
Dosen: Rinci Kembang Hapsari.
Komting Achmad Fariz
Download Disini.
Soal UAS ADBO

Mahfud MD, Dari Sampang Untuk Indonesia


Mahfud Kecil Dan Asal Mula Inisial MD

Mahfud yang nama lengkapnya Mohammad Mahfud dilahirkan pada 13 Mei 1957 di Omben, Sampang Madura, dari pasangan Mahmodin dan Suti Khadidjah. Mahmodin, pria asal Desa Plakpak, Kecamatan Pangantenan ini adalah pegawai rendahan di kantor Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Mahmodin lebih dikenal dengan panggilan Pak Emmo (suku kata kedua dari Mah-mo-din, yang ditambahi awalan em). Dalam bislit pengangkatannya sebagai pegawai negeri, Emmo diberi nama lengkap oleh pemerintah menjadi Emmo Prawiro Truno. Sebagai pegawai rendahan, Mahmodin kerap berpindah-pindah tugas. Setelah dari Omben, ketika Mahfud berusia dua bulan, keluarga Mahmodin berpindah lagi ke daerah asalnya yaitu Pamekasan dan ditempatkan di Kecamatan Waru. Di sanalah Mahfud menghabiskan masa kecilnya dan memulai pendidikan sampai usia 12 tahun. Dimulai belajar dari surau sampai lulus SD.

Mahfud adalah anak keempat dari tujuh bersaudara, Tiga kakaknya antara lain Dhaifah, Maihasanah dan Zahratun. Sementara ketiga adiknya bernama Siti Hunainah, Achmad Subkhi dan Siti Marwiyah. Latar kehidupan keluarganya yang berada di lingkungan taat beragama membuat pemberian nama arab tersebut penting. Khusus bagi Mahfud, arti dari nama “Mahfud” sendiri adalah “orang yang terjaga”. Dengan nama itu diharapkan Mahfud senantiasa terjaga dari hal-hal yang buruk. Adapun inisial MD di belakang nama Mahfud adalah singkatan dari nama ayahnya, Mahmodin, dan bukan merupakan gelar akademik seperti sebagian orang menganggapnya.

Sebenarnya sampai lulus SD tidak ada inisial MD di belakang nama Mahfud. Baru ketika ia memasuki sekolah lanjutan pertama, tepatnya masuk ke Pendidikan Guru Agama (PGA), tambahan nama itu bermula. Saat di kelas I sekolah tersebut ada tiga murid yang bernama Mohammad Mahfud. Hal itu membuat wali kelasnya meminta agar di belakang setiap nama Mahfud diberi tanda A, B, dan C. Namun karena kode tersebut dirasa seperti nomer becak, wali kelas lalu memutuskan untuk memasang nama ayahnya masing-masing dibelakang nama mahfud. Jadilah Mahfud memakai nama Mahfud Mahmodin sedangkan teman sekelasnya yang lain bernama Mahfud Musyaffa’ dan Mahfud Madani. Dalam perjalanannya, Mahfud merasa bahwa rangkaian nama Mahfud Mahmodin terdengar kurang keren sehingga Mahmodin disingkatnya menjadi MD. Tambahan nama inisial itu semula hanya dipakai di kelas, tetapi pada waktu penulisan ijazah kelulusan SMP (PGA), inisial itu lupa dicoret sehingga terbawa terus sampai ijazah SMA, Perguruan Tinggi, dan Guru Besar. Hal itu disebabkan karena nama pada ijazah di setiap tingkat dibuat berdasarkan nama pada ijazah sebelumnya. Berangkat dari situlah nama resmi Mahfud menjadi Moh. Mahfud MD.

Karir Mahfud MD

H Moh Mahfud MD lebih dikenal sebagai staf pengajar dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sejak tahun 1984. Sebelum menjabat sebagai Hakim Konstitusi Prof Mahfud MD pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI (2000-2001), Menteri Kehakiman dan HAM (2001), Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (2002-2005), Rektor Universitas Islam Kadiri (2003-2006), Anggota DPR-RI, duduk Komisi III (2004-2006), Anggota DPR-RI, duduk Komisi I (2006-2007), Anggota DPR-RI, duduk di Komisi III (2007-2008), Wakil Ketua Badan Legislatif DPR-RI (2007-2008), Anggota Tim Konsultan Ahli Pada Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum-HAM Republik Indonesia. Selain itu, beliau juga masih aktif mengajar di Universitas Islam Indonesia (UII), UGM, UNS, UI, Unsoed, dan lebih dari 10 Universitas lainnya pada program Pasca Sarjana S2 & S3. Mata kuliah yang diajarkan adalah Politik Hukum, Hukum Tata Negara, Negara Hukum dan Demokrasi serta pembimbing penulisan tesis dan desertasi.

Alasan Mahfud MD Menjadi Ketua MK

Saat ini, Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U. adalah Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2011 dan Hakim Konstitusi periode 2008-2013. Salah satu hal yang mendorong mantan anggota DPR ini menjadi hakim konstitusi adalah panggilan hatinya sebagai ahli hukum tata negara. Selain itu juga karena ia tertarik dengan perkembangan MK. Di luar faktor itu, Mahfud juga mengaku diajak oleh Jimly Asshiddiqie untuk berjuang di MK dalam rangka membangun Indonesia dengan konstitusi yang benar. Keduanya sering bertemu karena posisinya yang sama-sama sebagai ketua asosiasi hukum tata negara.

Dalam pandangan Mahfud, sebagai lembaga Negara, MK tidak diragukan lagi kredibilitasnya. Bukan karena ia sedang memimpin lembaga penafsir konstitusi tersebut, tetapi lebih disebabkan lembaga ini sama sekali belum pernah tersentuh alias steril dari sandungan kasus hukum. Dia menyebut ada tiga lembaga Negara yang menurutnya bagus dan bersih yaitu, MK, KY, dan KPK. Tetapi sebagus-bagus KY dan KPK, MK-lah yang dinilainya paling bersih dari noda, sebab KY dan KPK pernah kecolongan dengan tingkah pelanggaran hukum oleh oknumnya yang sedikit banyak mencederai kredibilitas dua lembaga negara tersebut.

Mengenai tergetnya sebagai hakim konstitusi ia justru menuturkan tidak punya target apa-apa. Ia akan bekerja mengalir saja sesuai dengan kewenangan yang diberikan. Sebab baginya jabatan hakim konstitusi berbeda dengan jabatan di birokrasi lain seperti menteri atau lainnya. Kalau posisi menteri memang harus kreatif dan mendinamisir banyak program, sementara hakim konstitusi sebaliknya, tidak boleh banyak program. Kalau hakim konstitusi banyak program justru akan berpotensi melanggar kewenangannya